Senin, 03 Februari 2014

Koleksi Photo Bandung Tempo Dulu

Pesta Pernikahan Tempo Doeloe


Pasangan pengantin Soenda ~1890
Pasangan pengantin berpakaian adat sunda yang terinspirasi oleh pakaian wayang. Mereka memakai banyak hiasan mas yang merupakan barang pusaka. Pengantin wanita pakai hiasan kepala dan hiasan bahu, pengantin pria pakai hiasan kepala dan kalung dada dengan 3 hiasan, semuanya mas. Perempuan yang berdiri di sebelah pengantin pria pakai sarung dengan motif parang rusak yang berarti dia pasti berketurunan raja. Mungkin perempuan itu ibu pengantin pria karena dia mirip putranya. Ayah tidak ada, kemungkin dia sudah meninggal. Orang tua dari pihak pengantin wanita berdiri di belakang. Gedungnya mewah. Di meja ada vas berlantai 2 dengan bunga mawar yang merupakan lambang cinta. Di depan meja ada seorang kerdil yang dipakai sebagai dekorasi juga, seperti dalam cerita wayang ada orang kerdil gaya Semar. Pasangan pengantin ini menikah dalam umur muda. Mungkin umurnya sekitar 14 (wanita) dan 16 (pria).

Keloearga Soenda ±1900

Kartupos diterbitkan oleh Tio Tek Hong dalam bahasa Belanda berjudul: “Groet uit de Preanger (Java) Soendaneesch huisgezin”. Bahasa Indonesianya: “Salam dari Priangan (Jawa) Keluarga Sunda”. Kartupos diambil dari foto yang dibuat di studio fotografer. Semuanya berpose untuk fotografer secara simetris. Potret memperlihatkan seorang ibu dengan 4 orang anaknya yaitu: 1 putra dan 3 putri. Selain itu dalam foto itu terlihat juga seorang adik perempuannya dan seorang menantu laki-laki. Kelihatannya keluarga ini adalah keluarga berada tetapi sayangnya keluarga ini tidak lengkap lagi. Kemungkinan suami dari ibunda tersayang sudah meninggal dunia. Ibu dari keluarga ini duduk di posisi tengah diatas bangku. Karena kaki dari ibu tersebut tidak cukup panjang untuk menyentuh lantai maka dari itu dibawah kakinya ditaruh bantal. Ibu memakai sarung kebaya dan sepatu. Selain itu dia juga pakai perhiasan seperti gelang dan anting-anting. Di baris depan ada kedua anaknya yang paling muda. Si putra yang duduk bersila memakai sarung dan kemeja berkerah tinggi dan 2 kantong dada. Si putri yang duduk di bantal di sebelah kaki ibu memakai sarung kebaya bermotif bunga. Perhiasan yang dipakai dia adalah cincin, dua gelang dan anting-anting. Di baris paling belakang kita dapat melihat putri kedua. Dia memegang kipas dan bunga sebagai penghias rambut. Disebelahnya berdiri menantu laki-laki yang bertelinga kelelawar. Menurut orang Jawa orang yang mempunyai “kuping lowo” panjang umur. Dia memakai ikat kepala, sarung, kemeja berkerah tinggi. Di salah satu dari 2 kantongnya ditaruh hiasan “pochette” yaitu lipatan saputangan gaya Eropa yang mencuat di saku dada. Perutnya agak gendut maka dari itu kancingnya tidak bisa ditutup semua. Mereka semuanya berekspresi serius sekali kecuali si menantu yang lumayan santai. Istrinya adalah putri tertua yang duduk di sebelah kiri ibunya. Putri ini memegang tas tangan yang keren. Kebaya ditutupi dengan bros dan dihiasi dengan bunga. Dia juga pakai hiasan kalung, gelang dan anting-anting. Yang duduk di sebelah kanan dari Ibu adalah adik dari ibu. Tampaknya dia bermata juling dan dari putih-putih di mata kirinya kita dapat tahu bahwa mata ini sakit. Penyakit ini menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas. Tidak ada cowok yang mau sama dia. Dia akan tetap perawan untuk selamanya. Karena itu dia tinggal bersama kakaknya. Tidak pasti apakah kipas, pochette, bunga dan tas tangan milik dari keluarga itu. Biasanya barang seperti ini termasuk perlengkapan dari studio fotografer. photo by Djawa tempo doeloe Priambodo

Gadis Priangan dikirim dari Buitenzorg ke Belgia 1914

Kartupos diterbitkan oleh Tio Tek Hong ini dalam bahasa Belanda berjudul: Groet uit de Preanger (Java). Bahasa Indonesianya: Salam dari Priangan (Jawa). Kartupos memperliatkan gadis cantik yang berpose untuk fotografer di studio foto. Gadis dapat ditaksir berusia sekitar 20-25 tahun. Dia memakai sarung batik bermotif bagus sekali yang diikat pada buah dadanya. Perhiasan yang dipakai dia adalah dua (atau lebih?) cincin, empat gelang, tiga kalung dan anting-anting. Kemungkinan besar gadis ini adalah putri kedua (yang memegang kipas) dari kartupos bergambar Keluarga Sunda yang diterbitkan oleh Tio Tek Hong juga.

Tjoeroek Dago Bandoeng 1905

Curug Dago adalah sebuah air terjun di sungai Cikapundung di daerah Bukit Dago, Bandung. Terletak di ketinggian sekitar 800 m di atas permukaan laut. Curug Dago hanya memiliki ketinggian lebih kurang 10 meter. Namun karena terjunan air jatuh ke dalam sebuah rongga yang terbentuk oleh batu lava basalt yang besar sehingga suara gemuruh air sangat terdengar jelas dari kejauhan. Hasil analisis penanggalan K-Ar menunjukkan lava basalt di Curug Dago berumur 48.000 tahun yang lalu.Kartupos diterbitkan oleh J.C. Becker dari Bandoeng memperlihatkan 5 orang istirahat di tepi sungai cikapundung. Ada 2 orang bule yang memakai topi gaya Eropa dan 3 pribumi yang memakai ikat kepala. Yang berdiri memegang senapan panjang. Mungkin sekali kelompok ini sedang memburu. Dua orang pribumi yang di sebelah kanan jongkok. Kedua orang bule duduk di atas tikar atau karpet kecil agar bajunya tidak kotor. Kakinya diluruskan ke depan karena tidak bisa jongkok

sumber : http://koleksiphotobandungtempodulu.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar